Berita Istana - Berita Terbaru dan Terpercaya
IMG-20200820-WA0517

Budaya Gotong Royong Dalam Memperkokoh Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kamis 20 agustus  2020 oleh berita istana 

Muchdir AR, Basneldi, Muzayyanah Yuliasih

ABSTRAK,-Tujuan penelitian ini membahas Budaya Gotong Royong Dalam Memperkokoh Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Gotong royong merupakan budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya yang telah eksis secara turun-temurun.

Gotong royong adalah bentuk kerja-sama kelompok masyarakat untuk mencapai suatu hasil positif dari tujuan yang ingin dicapai secara mufakat dan musyawarah bersama. Gotong-royong muncul atas dorongan keinginan, kesadaran dan semangat untuk menciptakan suatu karya, dan menanggung semua akibatnya, terutama yang benar-benar, secara bersama-sama, serentak dan beramai-ramai, tanpa memikirkan dan mengutamakan keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan selalu untuk kebahagian bersama, seperti terkandung dalam istilah ‘gotong’, gotong royong sebagai perasan dari Pancasila dan penerapannya dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari, gotong royong mengandung beberapa unsur-unsur modal sosial serta kondisi masyarakat kontemporer yang berada dalam situasi kekacauan sosial karena lemahnya penerapan nilai-nilai gotong royong dalam interaksi sosial.

Diduga perubahan sosial yang cepat serta kuatnya tekanan dari luar, terutama ideologi liberal yang berdasarkan individualis memenjadi penyebab kekacauan sosial. Mencermati prinsip yang terkandung dalam gotongroyong jelas melekat aspek-aspek yang terkandung dalam modal sosial. Modal sosial secara konsepsional bercirikan adanya kerelaan individu untuk mengutamakan kepentingan bersama. Berdasarkan Deklarasi Djuanda tahun 1957, disebutkan bahwa bentuk NKRI adalah negara kepulauan yang berorientasi kepada konsepsi wawasan nusantara, maknanya bahwa wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai dengan Merauke terdiri dari ribuan pulau dipersatukan oleh laut dan wilayah udara di atasnya. Hal itulah yang mendasari pada substansi nilai-nilai kesatuan wilayah.

Kata Kunci: Budaya; Gotong Royong; Memperkokoh; Kedaulatan; Negara Kesatuan Republik Indonesia.

A. PENDAHULUAN
Artikel ini berusaha menguraikan tiga pokok bahasan. Pertama, membahas gotong-royong sebagai perasan pancasila. Bahasan bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat bagaimana menerapkan Pancasila dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari. Salah satu praksis Pancasila dalam relasi sosial kehidupan masyarakat adalah gotong-royong dan nilai-nilai modal sosial. Uraian ini bertujuan menunjukkan bahwa budaya gotong-royong sebagai sebuah nilai moral (values) mempunyai akar filosofis dalam kajian akademis. Ditunjukkan bahwa dalam budaya gotong royong melekat nilai-nilai modal sosial yang diperlukan untuk kemajuan dan mensejahterakan masyarakat. Ketiga, ditelaah secara singkat situasi interaksi sosial masyarakat kontemporer. Fokus bahasan diarahkan bahwa akhir-akhir ini masyarakat terindikasi mengalami kekacauan sosial karena dalam relasi sosial meninggalkan semangat dan nilai-nilai gotong royong.

Terakhir didiskusikan yang perlu dilakukan untuk menguatkan kembali budaya gotong royong sebagai modal sosial dalam meraih kesejahteraan bersama. Wilayah NKRI yang terbentang dari Sabang hingga Merauke adalah tanah air dan tanah tumpah darah bangsa Indonesia yang dianugerahkan oleh Tuhan YME untuk kemaslahatan dan kesejahteraan hidup bagi segenap warga negara Indonesia.

Tanah air mengandung makna kesadaran akan keutuhan wilayah negara sebagai satu kesatuan wilayah darat, wilayah perairan dan wilayah udara di atasnya. Pemahaman terhadap makna tersebut membawa tanggung jawab yang sama dan seimbang terhadap ketiga matra. Tanah air juga berarti negara tempat dilahirkan (tanah tumpah darah), yang karenanya memiliki hubungan emosional yang kuat, sekaligus membawa tanggung jawab menjaga dan mempertahankan. Menjaga dan mempertahankan memiliki arti: menjaga kelestarian dan mengelola dengan tetap memperhatikan kepentingan generasi yang akan datang. Disamping itu melindungi dari tindakan pihak lain yang ingin merusak atau mengambil.

Oleh karena itu setiap warga negara wajib mencintai tanah airnya (cinta tanah air) yang dilandasai oleh kesadaran dan kerelaan untuk membangun dan mempertahankan tanah airnya (rasa kebangsaan, semangat kebangsaan dan rela berkorban) demi bangsa dan negaranya, karena di wilayah Indonesia inilah kita dilahirkan, hidup dan dibesarkan. Cara pandang kita terhadap tanah air hendaknya selalu berpijak kepada wawasan nusantara, yang memandang 3 bahwa walaupun wilayah Republik Indonesia terdiri dari ribuan pulau, namun tetap satu kesatuan utuh tidak terpisahkan, Indonesia adalah milik bersama bangsa Indonesia, sehingga setiap warga negara Indonesia di belahan bumi manapun ia dilahirkan, berhak hidup dimanapun di belahan bumi Indonesia dan wajib membela tanah air dan tanah tumpah darahnya.

A. LITERATUR
Menurut (Ben:2001) Secara lebih rinci, Gotong royong berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Sikap gotong royong adalah bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dan secara bersama-sama menikmati hasil pekerjaan tersebut secara adil. Atau suatu usaha atau pekerjaan yang dilakukan tanpa pamrih dan secara sukarela oleh semua warga menurut batas kemampuannya masing-masing. Sifat gotong royong dan kekeluargaan di daerah pedesaan lebih menonjol dalam pola kehidupan mereka, seperti memperbaiki dan membersihkan jalan, atau membangun/ memperbaiki rumah. Sedangkan di daerah perkotaan gotong royong dapat dijumpai dalam kegiatan kerja bakti di RT/RW, di sekolah dan bahkan di kantor-kantor, misalnya pada saat memperingati hari-hari besar nasional dan keagamaan, mereka bekerja tanpa imbalan jasa, karena demi kepentingan bersama. Implementasi nilai gotong royong pada masyarakat Indonesia merupakan bagian esensial dari revitalisasi nilai sosio budaya dan adat istiadat pada masyarakat yang memiliki budaya beragam agar terbebas dari dominasi sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, serta ideologi lain yang tidak mensejahterahkan
Rasa kebangsaan adalah dorongan emosional yang lahir dalam perasaan setiap warga negara, baik secara perorangan maupun kelompok, tanpa memandang suku, ras, agama maupun keturunan. Rasa itulah yang menumbuhkan internalisasi suatu masyarakat yang didambakan (imagined society) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bernama bangsa Indonesia. Menguatnya rasa kebangsaan secara individual dan kelompok menjadi energi dan pengendapan nilai-nilai kebang-saan yang kemudian melahirkan faham dan semangat kebangsaan. Rasa kebangsaan akan tumbuh subur dan berkembang melalui proses sinergi dari berbagai individu (warga negara) yang berada dalam wilayah NKRI kemudian satu sama lain saling menguatkan dan melahirkan ciri atau identitas bangsa. Keyakinan dan pengakuan ter-hadap ciri atau identitas bangsa merupakan perwujudan dari rasa kebangsaan itu sendiri. (Gooch:2007).
Setelah Bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, untuk membangun negara dan bangsa, Indonesia tidak memiliki modal finansial yang cukup, namun didorong oleh semangat persatuan dan kesatuan, kebersamaan, kemandirian dan nasionalisme yang kuat dari setiap anak bangsa untuk saling bersatu bahu membahu mengisi kemerdekaan demi mencapai cita-cita bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan nasional, Negara Indonesia secara bertahap mampu menjalankan kehidupan kebangsaannya. Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia terus mengumandangkan nasionalisme untuk membangun persatuan dan kesatuan serta kemandirian bangsa untuk mempertahankan NKRI dan melaksanakan pembangunan nasional, proses pembangunan diawali dengan pembangunan politikmelalui langkah-langkah membangun Nation and Character Building (Ir. Soekarno). .Pembangunan politik berhasil membangun bangsa dengan mengobarkan kesadaran nasional dan solidaritas bangsa bagi seluruh masyarakat yang serba majemuk. Pada masa ini terbentuklah sikap nasionalisme, patriotisme, anti kolonialisme, anti kapitalisme dan bahkan anti imperialisme, namun titik kelemahan pembangunan politik ini terletak pada lemahnya penanganan masalah-masalah kesejahteraan yang makin krusial. (Ermaya:2005)
Kita semua bangsa Indonesia tanpa kecuali mempunyai tanggung jawab membentuk perilaku masyarakat untuk menghormati simbol-simbol negara secara benar menjadi budaya bangsa, hal ini diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 pada point “b”, sebagai berikut: “Bahwa bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan Indonesia merupakan manifestasi kebudayaan yang berakar pada sejarah perjuangan bangsa, kesatuan dalam keragaman budaya, dan kesamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Menurut (Kartodijo:1987) Gotong royong merupakan budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya yang telah eksis secara turun-temurun. Gotong royong adalah bentuk kerja-sama kelompok masyarakat untuk mencapai suatu hasil positif dari tujuan yang ingin dicapai secara mufakat dan musyawarah bersama. Gotong-royong muncul atas dorongan keinsyafan, kesadaran dan semangat untuk mengerjakan serta menanggung akibat dari suatu karya, terutama yang benar-benar, secara bersamasama, serentak dan beramai-ramai, tanpa memikirkan dan mengutamakan keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan selalu untuk kebahagian bersama, seperti terkandung dalam istilah ‘Gotong.’ Didalam membagi hasil karyanya, masing-masing anggota mendapat dan menerima bagian-bagiannya sendiri-sendiri sesuai dengan tempat dan sifat sumbangan karyanya masingmasing, seperti tersimpul dalam istilah ‘Royong’. Maka setiap individu yang memegang prinsip dan memahami roh gotong royong secara sadar bersedia melepaskan sifat egois. Gotong royong harus dilandasi dengan semangat keihklasan, kerelaan, kebersamaan, toleransi dan kepercayaan. Singkatnya, gotong royong lebih bersifat intrinsik, yakni interaksi sosial dengan latar belakang kepentingan atau imbalan non-ekonomi.
Menurut (Hatta:1977) Gotong-royong adalah suatu faham yang dinamis, yang menggambarkan usaha bersama, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama, suatu perjuangan bantu-membantu. Gotong-royong adalah amal dari semua untuk kepentingan semua atau jerih payah dari semua untuk kebahagian bersama. Dalam azas gotong-royong sudah tersimpul kesadaran bekerja rohaniah maupun kerja jasmaniah dalam usaha atau karya bersama yang mengandung didalamnya keinsyafan, kesadaran dan sikap jiwa untuk menempatkan serta menghormati kerja sebagai kelengkapan dan perhiasan kehidupan. Dengan berkembangnya tatatata kehidupan dan penghidupan Indonesia menurut zaman, gotong-royong yang pada dasarnya adalah suatu azas tata-kehidupan dan penghidupan Indonesia asli dalam lingkungan masyarakat yang serba sederhana mekar menjadi Pancasila. Prinsip gotong royong melekat subtansi nilai-nilai ketuhanan, musyawarah dan mufakat, kekeluargaan, keadilan dan toleransi (peri kemanusiaan) yang merupakan basis pandangan hidup atau sebagai landasan filsafat Bangsa Indonesia.

B. METODE PENELITIAN
Eksistensi rangkaian suatu metode penelitian guna untuk mendukung pembahasan dan analisa terhadap pokok-pokok permasalahan di atas maka diperlukan adanya pengumpulan data yang kemudian untuk dikonstruksikan. Dalam penyusunan penulisan ini dilakukan pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan (library research). Dengan Library Research akan dihasilkan karya ilmiah yang mempunyai materi, kualitas, kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan, di mana bahan-bahan/data-data tersebut didapat dari : Buku-buku ilmiah yang tersebut dalam literatur, naskah-naskah peraturan perundang-undangan, majalah, surat kabar, internet, dan tulisan karya ilmiah, Dengan menggunakan metode ini diharapkan artikel ini ini dapat menjadi suatu karya ilmiah yang baik dan berguna untuk menambah keupstakaan dan wawasan.

C. PEMBAHASAN
Sudah lama kita menanti hadirnya suatu kehidupan bangsa ini agar lebih baik, hidup penuh kedamaian dan kegotong-royongan sebagaimana nenek moyang kita dahulu. Hidup rukun, bergandeng tangan, bekerja bersama dan saling tolong-menolong serta saling menghargai satu sama lain dalam mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Persatuan dan kesatuan bangsa sepertinya merupakan harga mati yang tidak boleh ditawar-tawar lagi dan tidak boleh hilang dari bumi pertiwi. Budaya gotong-royong sebagai ciri bangsa Indonesia harus selalu dipertahankan. Hal ini merupakan bentuk nyata solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat. Setiap warga negara yang terlibat di dalamnya memiliki hak untuk dibantu dan juga berkewajiban untuk membantu. Disini terdapat azas timbal balik yang saling menguntungkan. Namun apa yang terjadi sejak munculnya arus globalisasi dan modernisasi yang oleh sebagian orang dianggap sebagai peluang yang luar biasa hebatnya. Dampaknya luar biasa, terutama terhadap nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat yang semakin individualis dan munculnya konflik sosial. Untuk menghindari terjadinya konflik sosial di tengah-tengah masyarakat, dimasa lalu hampir setiap saat kita selalu diingatkan, diperdengarkan dan diperlihatkan suatu kata-kata yang indah, manis dan menarik, yaitu “Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Apapun upaya yang dilakukan, hampir semuanya mengarah pada kepentingan rakyat banyak dan kebersamaan. Itu, hampir disetiap kesempatan selalu didengungkan, baik oleh pimpinan pemerintahan, LSM dan berbagai media massa, baik melalui radio, televisi dan surat kabar nasional. Namun sangat disayangkan, hal itu akhir-akhir ini hampir terlupakan atau sengaja dilupakan dan tidak terdengar lagi. Hal ini dapat dijadikan renungan, mau kemana arah bangsa ini ke depan, bila persatuan dan kesatuan kita mulai goyah. Gotong-royong akan memudar apabila rasa kebersamaan mulai menurun dan setiap pekerjaan tidak lagi terdapat bantuan sukarela, bahkan telah dinilai dengan materi atau uang. Kegiatan gotong-royong baik di perdesaan maupun di perkotaan, wajib dijaga bersama dengan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi strategi dalam pola hidup bersama yang saling meringankan. Munculnya kerjasama semacam itu sebenarnya merupakan suatu bukti adanya keselarasan hidup antar sesama bagi komunitas, terutama yang masih menghormati dan menjalankan nilai-nilai kehidupan, yang biasanya dilakukan oleh komunitas perdesaan atau komunitas tradisional. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa komunitas masyarakat yang berada di perkotaan juga dalam beberapa hal tertentu memerlukan semangat gotong-royong. Yang mengakibatkan hilangnya budaya gotong royong antara lain tumbuhnya paham individualis, komersialis di kalangan masyarakat, sehingga muncul sifat individualistik yang acuh tak acuh dengan sesamanya, seakan tutup mata dan telinga terhadap orang lain yang memerlukan pertolongan, hanya mau membantu orang yang dikenal saja, bahkan tak jarang yang memiliki motto hidup, “Tidak ada bantuan jika tidak ada imbalan”. Jika itu terus dibiarkan, maka akan tercipta perpecahan diantara anak bangsa. Upaya yang dilakukan adalah membentuk dan pengembangkan pos-pos pemberdayaan keluarga (posdaya) di berbagai tempat di tanah air. Posdaya merupakan wahana, forum silaturahmi dan wadah untuk membangkitkan kembali budaya gotong-royong di masyarakat, baik di perdesaan maupun masyarakat perkotaan. Di dalam posdaya, keluarga-keluarga diajak secara musyawarah, memecahkan berbagai persoalan di lingkungannya, sehingga setiap anggota memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya serta segala sesuatu dapat dipecahkan bersama. Dengan diawalinya musyawarah di tingkat akar rumput, budaya saling mengenal dan bersilaturahmi, maka akan tercipta budaya hidup gotong-royong yang secara nyata dilakukan. Gotong-royong bukan sekedar diomongkan di publik, tetapi benar-benar dilaksanakan melalui posdaya. Karena di dalam posdaya segala permasalahan dapat diselesaikan tanpa harus merasa ada yang dimenangkan maupun ada yang dikalahkan.

D. KESIMPULAN
Untuk mencapai dalam Memperkokoh Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Gotong royong perlu menciptakan suasana sosial yang membuka peluang menguatnya kembali budaya gotong royong. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah meningkatkan kemampuan (capacity building) menekankan pada otonomi (kemandirian) komunitas lokal dalam pengambilan keputusan, keswadayaan lokal (local self-reliance) yang bersifat partipatoris (demokrasi), melalui pemberdayaan dan adanya proses pembelajaran sosial. Ini dapat diartikan sebagai upaya sistematis terencana untuk meningkatkan kemampuan serta memberikan kewenangan dan otoritas pada masyarakat (komunitas) lokal sehingga mereka dapat memutuskan secara demokrasi partisipatif dengan mengutamakan mufakat dan musyawarah apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki kehidupan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Campur tangan kekuatan eksternal perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat, bahwa gotong royong telah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kita sejak lama. Dalam budaya gotong royong melekat nilai-nilai substansi modal sosial. Sebagai modal sosial, gotong royong dapat dijadikan rujukan dan pegangan dalam mencapai kemajuan suatu bangsa. Itu artinya bila masyarakat masih memegang teguh prinsip gotong royong sebagai modal sosial maka lebih mudah dalam mencapai kemajuan bersama. Sebaliknya, bila nilai-nilai gotong royong yang terkandung dalam modal sosial tidak lagi menjadi pegangan dan rujukan dalam masyarakat dan komunitas bisa jadi akan mengalami kesulitan karena enerji sosial bisa terbuang sia-sia dan berpotensi menghalangi mencapai tujuan kemajuan bersama. Bahkan bisa memicu munculnya kekacauan sosial. Maka sudah saatnya budaya gotong-royong kembali diperkuat dan dijadikan rujukan dan acuan dalam kehidupan berbangsa. Salah satu upaya yang dapat dipikirkan adalah memperkuat institusi sosial lokal yang selama ini masih bertumpu pada nilai-nilai kebersamaan, menjunjung tinggi moral/etika, kejujuran, saling percaya sebagai pintu masuk menuju penguatan kembali (revitalisasi) budaya gotong royong.

E. SUMBER REFERENSI
Fine, Ben. 2001. Social Capital versus Social Theory: Political Economy and Social Science at The Turn of the Mellenium. London: Routledge,
Hatta, Mohammad. 1977. Pengertian Pancasila. Jakarta: Idayu Press
Gooch. 2007. Kutipan L.L. Snyder. “The Dynamic of Nasionalism” (Princeton : D. Van Nostrand Co. Inc.),
Suradinata Ermaya, 2005. “Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi Dalam Kerangka Keutuhan NKRI” Bandung: Suara Bebas
Undang-Undang No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan
Sartono Kartodijo, 1987, “Gotong – royong: Saling Menolong Dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia, dalam Callette, Nat.J dan Kayam, Umar (ed), Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan Terhadap Antropologi Terapan di Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor.

Editor : Arw

Share this :

Baja Juga

News Feed

Bantuan Dana Untuk UMKM Masa Pandemi Corona Diduga Carut-Marut Dan Tidak Transpran

Kam, 24 Sep 2020 07:07:03pm

Kamis 24 Sep 2020 diterbitkan oleh Berita istana Ngawi Berita istana Ngawi, pemerintah lewat kementrian Koperasi dan UMKM dimasa pandemi ini...

Lanjutan Sidang Tumboy, Satu Bidang Tanah Terdapat Tiga Jenis Hak

Kam, 24 Sep 2020 04:36:13pm

Lanjutan Sidang Tumboy, Satu Bidang Tanah Terdapat Tiga Jenis Hak Kupang (NTT) - Sidang lanjutan perkara ahli waris Tumboy vs Kantor Pertanahan Kota...

Polres Palas Raih Rangking II Operasional Fungsi Sabhara

Rab, 23 Sep 2020 09:09:02pm

Polres Palas Raih Rangking II Operasional Fungsi Sabhara Rabu, 23 Sept 2020 | Penulis : Bonardon BERITAistana.id Padang Lawas.-Dalam rangka...

Tanggulangi Banjir, Pemkot Jak-Tim Bersinergi Dengan Stakeholder Perbanyak Sumur Resapan

Rab, 23 Sep 2020 08:27:01pm

Tanggulangi Banjir, Pemkot Jak-Tim Bersinergi Dengan Stakeholder Perbanyak Sumur Resapan JAKARTA, Pemerintah Kota Jakarta Timur memperbanyak...

Tim Hukum Pubabu-Besipae Surati Gubernur NTT

Rab, 23 Sep 2020 08:16:43pm

Tim Hukum Pubabu-Besipae Surati Gubernur NTT Kupang (NTT) – Penggunaan tanah adat Pubabu-Besipae untuk investasi Kelor oleh Gubernur NTT masih...

Presiden Saksikan Pengucapan Sumpah Anggota Dewan Komisioner LPS

Rab, 23 Sep 2020 04:08:38pm

Presiden Saksikan Pengucapan Sumpah Anggota Dewan Komisioner LPS JAKARTA, -Presiden Joko Widodo menyaksikan pengucapan sumpah anggota Dewan...

SINERGI UNTUK NEGERI BANTUAN AIR WARNAI HUT TNI DAN TMMD SENGKUYUNG

Rab, 23 Sep 2020 09:46:14am

  Boyolali. Musim kemarau saat ini mengakibatkan sumber-sumber mata air yang menjadi penyedia air bersih di beberapa daerah khususnya di...

Presiden Jokowi Dorong PBB Perkuat Kerja Sama Dalam Penanganan Covid-19

Rab, 23 Sep 2020 09:34:56am

Presiden Jokowi Dorong PBB Perkuat Kerja Sama Dalam Penanganan Covid-19 Rabu 23 September 2020 Oleh tim Berita Istana  JAKARTA, - Presiden Joko...

Solusi Kongkrit dari Pieter Tobias Pattiasina Bagi Kalangan Pelaku Usaha di Masa Pandemi

Rab, 23 Sep 2020 05:36:14am

Solusi Kongkrit dari Pieter Tobias Pattiasina Bagi Kalangan Pelaku Usaha di Masa Pandemi JAKARTA - Semenjak Virus Corona (covid-19) ini melanda...

Ningsih Dewi Marini: Walaupun Berada di Masa Pandemi, Tak Halangi Niat Ikuti Aksi Sosial Donor Darah

Rab, 23 Sep 2020 05:32:37am

Ningsih Dewi Marini: Walaupun Berada di Masa Pandemi, Tak Halangi Niat Ikuti Aksi Sosial Donor Darah JAMBI - Menyambut HUT TNI ke 75 Tahun 2020,...

Berita Terbaru

International

Fokus

Visitor

WhatsApp
Hello, we are here for any question, feel free to talk with us
×
Translate »