Berita Istana - Berita Terbaru dan Terpercaya
IMG_20200824_100148

Pergeseran Nilai Cultural Budaya Pendidikan di Tengah Arus Globalisasi

Senin 24 agustus berita istana Penulis adalah ALWI HILIR S.kom alumnus university mh thamrin

Jakarta. dan anggota IAE (indonesian aproach education)
Ki hajar dewantara pernah memberi peringatan penting mengenai hadirnya zaman kebingungan. Zaman kebingungan ini adalah zaman yang ditandai oleh krisis multidimensi. Ramalan KHD seperti telah nampak di era kita sekarang ini. Pada zaman inilah, kita merasakan ada berbagai arus globalisasi yang begitu deras, dan arus kebudayaan asing yang begitu gencar. Derasnya arus globalisasi dan kebudayaan asing ini sebenarnya sudah hadir semenjak dulu, tetapi, di era sekarang nampak sekali, kita seperti kurang memiliki daya tahan terhadap serangan kebudayaan asing ini. Dalam kehidupan sosial kita misalnya, nampak sekali budaya individualistis lebih ditonjolkan ketimbang budaya gotong royong dan kerjasama.

Dalam sektor pendidikan, kita bisa melihat betapa kita begitu gagap menghadapi globalisasi, kita seperti tak memiliki daya tawar terhadap kebudayaan asing. Lunturnya nilai-nilai kesopanan, krisis karakter, serta sikap dalam belajar menjadi masalah dalam pendidikan kita. Kita seperti kehilangan dan melupakan bahasa daerah kita, kita menjadi lupa dan tak lagi mengenali kesenian tradisional kita, serta tradisi dan kearifan local kita. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan: “Di dalam zaman kebingungan ini seharusnjalah keadaban kita sendiri (cultuurhistorie), kita pakai sebagai penundjuk djalan untuk mentjari kehidupan baru jang selaras dengan kodrat kita dan akan memberikan kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaban bangsa kita sendiri, kita lalu pantas berhubungan bersama-sama dengan keadaan bangsa asing”
Beberapa waktu lalu, Badan Akreditasi Nasional (BAN) Non Formal akan mulai melakukan akreditasi pada Sekolah Satuan Pendidikan (SPK) yang dulu adalah sekolah internasional jenjang PAUD. Hal ini dilakukan berdasarkan Permendikbud nomor 31/2014 tentang kerjasama penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan oleh lembaga pendidikan asing dengan lembaga pendidikan Indonesia.
Hadirnya sekolah dengan label “internasional”, membuat kita semakin yakin bahwa serbuan dan serangan kebudayaan asing di sekolah-sekolah kita sekarang ini semakin meminggirkan identitas nasional dan kebudayaan nasional kita. Kurikulum sekolah asing ini, memang didesain untuk mengenalkan dan mempopulerkan kebudayaan asing. Anehnya, promosi bahasa asing, pertukaran pelajar, sampai pada beasiswa asing semakin diminati oleh orangtua kita sampai pada anak-anak kita sekarang ini.

Masyarakat perkotaan secara identitas memang sudah mengalami pergeseran budaya, sehingga mereka menciptakan budaya sendiri (budaya urban). Mereka tak lagi mengenali budaya asali mereka, pada sisi lain mereka juga menciptakan budaya baru, budaya perkotaan. Keadaan ini membuat orangtua yang tinggal di perkotaan sering mendambakan kebudayaan yang modern. Begitu pula cara pandang mereka dalam memberikan pendidikan bagi putera-puteri mereka. Mereka akan lebih suka terhadap sekolah dengan label internasional dan memberikan pengenalan bahasa asing lebih dini kepada anak-anak mereka.

Tantangan pendidikan nasional kita saat ini memang bertambah rumit. Kita memerlukan cara untuk kembali meyakinkan orangtua kita dan masyarakat kita kepada pendidikan nasional kita. Jangan sampai orangtua dan masyarakat kita justru semakin merasa jauh dan asing, apalagi sinis terhadap kebudayaan kita sendiri.

Pengenalan sejak dini di usia pendidikan dari kecil sampai dewasa perlu dilakukan. Nilai-nilai pendidikan nasional yang erat dengan karakter kemerdekaan, kemandirian dan juga keadaban tidak boleh hilang dalam dunia pendidikan kita. Selain itu, anak-anak kita perlu dikenalkan kembali kepada keebudayan kita sendiri.

Tarian kita, seni music kita, wayang dan aneka kekayaan cultural kita perlu kita gali dan kenalkan kembali kepada anak-anak kita melalui pendidikan. Selama ini, kita sering memisahkan antara kebudayaan dan pendidikan di sekolah kita. Seolah-olah tarian, gamelan dan kesenian tradisional kita adalah pelajaran tambahan dan biasanya dikemas dalam ekstrakurikuler. Padahal, di dalam pendidikan negara asing, pengenalan kepada kebudayaan sudah menyatu dalam kurikulum pendidikan mereka. Sedangkan di negeri kita sendiri, pengetahuan akan kesenian dan kebudayaan daerah hanya berhenti pada soal dan jawaban semata. Di sekolah-sekolah perkotaan, pengenalan terhadapa alam, kehidupan agraris negeri ini justru dikemas dengan kegiatan wisata belajar di sekolah-sekolah mereka.

Mereka nampak senang dan riang kala diajak ke sawah melihat dan menyaksikan petani bekerja di sawah. Padahal, negeri ini adalah negeri agraris, yang mestinya tak jauh dari kosmologi alamnya yang agraris. Itulah secuil realitas pendidikan kita sekarang yang seolah memisahkan unsur kebudayaan kita dari dunia pendidikan kita.

Selama ini, sekolah-sekolah internasional di negeri ini memiliki dampak signifikan terhadap persoalan mentalitet. Kita jadi merasa inlander, kagum dan memuja pendidikan asing dari pada pendidikan kita sendiri. Begitupun ketika kita melihat anak-anak kita menjadi lupa dan kehilangan identitas mereka, melupakan kebudayaan mereka sendiri dan merasa minder dengan kebudayaan asing. Hal ini wajar sebab sekolah asing, atau sekolah yang didesain dengan kurikulum asing memang tak mengajarkan kebudayaan kita.

Biasanya anak-anak kita yang sekolah di sekolah asing pun berdampak kepada sikap dan perilaku mereka. Dengan bahasa asing yang mereka punya, mereka jadi merendahkan atau menganggap rendah teman yang sekolah di sekolah negeri kita.
Persoalan mentalitet ini akan semakin sulit disembuhkkan ketika mereka tak mengenali para pendiri bangsa kita maupun para pahlawan kita yang memiliki akar kuat dan mentalitet yang kuat terhadap kebudayaan asing. Sebut saja Kartini, Sosrokartono, sampai pada Mohammad Hatta atau Sjahrir.

Mereka-mereka ini adalah contoh bagaimana mentalitet selalu dididik dan dilatih untuk tak menjadi hamba bagi kebudayaan asing.

Sehingga ketika mereka selesai menuntaskan studi mereka, mereka tak melupakan kekayaan cultural yang dimiliki bangsa kita.

Realitas globalisasi memang menuntut kita untuk menjadi bangsa yang terbuka dari berbagai aspek termasuk pendidikan.

Tapi alangkah sayangnya ketika keterbukaan kita kepada bangsa asing melalui pendidikan justru membuat generasi kita lupa terhadap nilai-nilai budaya kultural kita dan nilai-nilai nasionalisme di pendidikan kita.

Share this :

Baja Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed

Kunjungi Sumsel, Ketua Komite I DPD RI Bantu Selesaikan Isu Konflik Pertanahan dan Gambut

Sel, 22 Sep 2020 07:21:24am

Kunjungi Sumsel, Ketua Komite I DPD RI Bantu Selesaikan Isu Konflik Pertanahan dan Gambut Selasa 22 September 2020 oleh tim berita...

PERBUMMA Adat Nusantara, Matangkan Konsep Salatiga Menyapa Dunia, Persiapan Festival Vanili Nusantara dan Kampung Empat Pilar di Salatiga

Sen, 21 Sep 2020 08:50:34pm

Senin 21 September 2020 Berita Istana  JAKARTA - Perkumpulan Badan Usaha Milik Masyarakat (PERBUMMA) Adat Nusantara semakin menunjukkan...

Bupati Sragen dan Dinas PUPR Tancap Gas Membangun Sukowati

Sen, 21 Sep 2020 07:26:41pm

Bupati Sragen dan Dinas PUPR Tancap Gas Membangun Sukowati Bupati Sragen Kusdinar...

Sejumlah Wartawan di Usir Oknum Guru SMK N 4 Pati Saat Klarifikasi

Sen, 21 Sep 2020 04:49:11pm

Sejumlah Wartawan di Usir Oknum Guru SMK N 4 Pati Saat Klarifikasi Senin 21 September 2020 Oleh Tim Berita Istana  PATI - Sikap yang di tunjukan...

Serka M. Nur Hakib Himbau Warganya Laksanakan Protokoler Kesehatan

Sen, 21 Sep 2020 01:56:41pm

Serka M. Nur Hakib Himbau Warganya Laksanakan Protokoler Kesehatan Surakarta_Menjalin Komunikasi Sosial (Komsos) dengan tokoh masyarakat dan sambang...

Babinsa Pakang Dukung dan Dampingi Pelaksanaan BIAS

Sen, 21 Sep 2020 10:34:56am

Babinsa Pakang Dukung dan Dampingi Pelaksanaan BIAS Boyolali. Babinsa Pakang Koramil 15/Andong Kodim 0724/Boyolali Sertu Sunarto melakukan...

Proyek DAK SMAN 1 Kwadungan Diduga Syarat Penyimpangan

Sen, 21 Sep 2020 07:17:49am

Proyek DAK SMAN 1 Kwadungan Diduga Syarat Penyimpangan dan Mark Up Anggaran Senin 21 September 2020 Oleh Tim Berita Istana Ngawi Berita Istana,...

Demi Tingkatkan Ketahanan Pangan Babinsa Kemlayan dan Ibu-ibu LPMK Budikdamber

Ming, 20 Sep 2020 01:52:38pm

  Demi Tingkatkan Ketahanan Pangan Babinsa Kemlayan dan Ibu-ibu LPMK Budikdamber Surakarta, Dengan semakin menyempitnya potensi lahan di...

DPD RI Ajak Rakyat Indonesia Tunda Pilkada 2020

Sab, 19 Sep 2020 10:26:20pm

JAKARTA - Ketua Komite I DPD RI Fachrul Razi Mengajak seluruh rakyat Indonesia agar menunda pelaksanaan Pilkada 9 Desember 2020 mendatang dikarena...

Tega,!! Pemdes Watugede Kemusu Boyolali Hentikan Bantuan BPNT Warga Miskin

Sab, 19 Sep 2020 10:11:44pm

Pemdes Watugede Kemusu Boyolali Hentikan Bantuan BPNT Warga Miskin Sabtu 19 September 2020 Oleh Berita Istana Berita Istana| Boyolali,-...

Berita Terbaru

International

Fokus

Visitor

WhatsApp
Hello, we are here for any question, feel free to talk with us
×
Translate »